27
JAN
2021

Secercah Harapan dari Pelosok Desa

   Panas terik matahari menyinari desa terpencil, anak-anak berjalan membantu orang tuanya mencari nafkah. Kaori, seorang anak yatim piatu yang hidup sebatang kara melawan kejamnya dunia. Ia memiliki tekad untuk membebaskan desanya dari kemiskinan. Kaori memiliki seorang teman bernama Akari yang selalu menemani dan mendukung setiap usahanya untuk menggapai tujuan. 

“Kaori! Tunggu! “

“Iya Akari?

“Kau sudah makan?”

“Hmm belum, aku masih mencarinya.”

“Mari makan denganku!” Akari langsung menarik tangan Kaori untuk makan bersamanya. 

” Akari, Apa kau tidak bosan seperti ini?” 

“Setiap manusia memiliki titik bosan di hidupnya, tapi karena telah terbiasa aku tidak merasakannya lagi.”

“Aku ingin merubah keadaan desa ini.”

“Itu terdengar sesuatu yang mustahil.” Jawab Akari dengan pelan. 

“Tidak ada yang mustahil! Akari, semua akan mustahil jika kita diam mematung! aku akan pergi ke kota.” kata Kaori dengan tegas. 

   Akari menatap Kaori, seakan tak percaya apa yang diucapkannya.

“Apakah kau akan kembali?” 

“Ya Akari, aku akan kembali untukmu dan desa ini.” 

Akari menangis mendengar kata-kata Kaori. 

” Aku akan bersiap-siap ke kota.” Kaori langsung berlari ke rumahnya untuk bersiap diri. Akari terus menangis mendengar Kaori pergi ke kota yang jauh, ia merasa kehilangan sahabat yang ia sayangi. 

   Keesokan harinya, Kaori berangkat dengan tekad bulat. Warga desa mulai membicarakan Kaori yang berani ke kota sendirian. Warga sudah bertaruh jika Kaori akan gagal. Kaori berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk bisa sampai ke kota. Ia beristirahat sejenak untuk minum, tiba-tiba seorang pria tua bernama kakek Nori menawarkan tumpangan ke kota. Kaori sangat senang, karena ia dapat mempercepat waktunya untuk sampai di kota. 

   Kakek Nori hanya bisa mengantar Kaori sampai batas kota, karena kakek akan pergi ke kota lain. Kaori sangat berterima kasih dan langsung berjalan kembali. 

“Inikah yang namanya kota? Sebesar ini? Apakah aku akan berhasil? Aku akan berhasil dan kembali untukmu, Akari.” Kaori langsung mencari pekerjaan untuk menyambung hidup di kota, ia mendapatkan pekerjaan menjadi buruh paruh waktu di sebuah proyek, Kaori juga di sediakan tempat tinggal oleh mandor disana. 

“Kau sudah bisa bekerja hari ini. Tempat tinggal, makan dan minum akan ku tanggung.” 

“Terima kasih Pak mandor!” 

 Kaori menjawab dengan penuh semangat. 

 Kaori bekerja dengan sangat rajin, ia menyisihkan sebagian gajinya untuk biaya sekolah. Kaori mendaftar sekolah di kota, dimana seluruh siswa disana dari kalangan orang mampu, ia tak peduli sama sekali. 

“Lihat anak ini, kotor dan dekil.”

“Biasalah, jika seorang pemulung masuk di sekolah elit!”

Kaori hanya diam tak mempedulikanya, ia langsung duduk. 

“Lihat dia! seperti pengemis!” 

“Kalian hanya banyak bicara, tapi otak kalian tak ada isisnya.” Kaori menjawab dengan santai. 

“Apa kau bilang?” seorang anak menghampirinya. 

“Dasar anak yatim piatu!”
“Hahaha….hahaha…!” seisi kelas tertawa. 

“Lebih baik yatim piatu, tapi bisa bersikap baik terhadap orang. Tidak seperti kalian, punya orang tua, tapi sikap kalian sangat tidak sopan.” Jawab Kaori. 

   Seorang anak langsung menarik kerah baju Kaori. Terjadi perkelahian antara Kaori dan temanya. 

“Berhenti!” 

seorang guru menghampiri kelas mereka, Kaori langsung duduk tanpa bicara. 

“Kaori!”

“Apa yang kamu lakukan?!” Tanya seorang guru menghampirinya. 

“Maaf Pak, saya hanya tidak suka jika saya dihina.” Jawab kaori.

Kaori dan Faruko temanya, diberikan peringatan supaya tidak mengulangi hal yang sama. Semenjak kejadian itu, Kaori tidak pernah di ganggu lagi oleh teman-temanya. Kaori adalah anak yang cerdas dan berbakat, ia selalu mendapatkan nilai bagus setiap ulangan dan test di sekolahnya, ia juga mendapatkan beasiswa sampai perguruan tinggi. Kaori terus belajar dan lulus menjadi sarjana dengan nilai terbaik, ia langsung mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah kantor.

   Sepuluh tahun berlalu. Akari sangat merindukan Kaori yang tak pernah menemuinya. Kaori pun merasakan hal yang sama seperti Akari, dan ia memutuskan untuk kembali ke desa. 

   Kaori langsung meminta cuti untuk kembali ke desa asalnya. Sesampainya Kaori di desa, warga desa terkejut dengan Kaori yang sekarang. 

“Hai pak, saya ingin mencari Akari.”

“Siapa kau nak? Apakah kau Kaori? “

” Ya pak, apakah bapak dan ibuk lupa dengan saya?”

“Kami hanya terkejut dengan dirimu sekarang.”

” Ini berkat doa dan kerja keras saya selama ini. Oh ya, dimana Akari?” tanya Kaori dengan semnagat. 

“Akari ditaman nak!”

“Oh, terima kasih pak.”

   Kaori langsung menuju taman yang dulu sering ia kunjungi bersama Akari.

“Akari!” 

Kaori memanggil Akari yang duduk termenung di taman. Akari menoleh dan terkejut melihat Kaori yang sekarang. 

” Kaori?” Akari berlari dan memeluk Kaori dengan erat. 

” Kemana saja kau selama ini Kaori?”

“Aku belajar, bahwa dunia sangat luas dan kejam!” Jawab Kaori. 

“Aku ada sesuatu yang ingin ku tunjukan padamu.”

“Apa itu Kaori?”

“Tutup matamu!” 

Kaori langsung mengambil sebuah cincin dan bunga untuk melamar Akari. 

” Akari, apa kau mau menikah dengan ku?”

Akari terkejut dan langsung menangis bahagia. 

“Iya, aku mau Kaori”

Akari langsung memeluk erat Kaori. Kaori dan Akari menikah di desa secara sederhana. 

  Kaori tidak lupa tujuan utamanya kembali ke desa, yaitu membebaskan desanya dari kemiskinan. Ia mulai mengajarkan warga desa untuk bertani yang baik. Akari juga membantu Kaori dengan membuat usaha jahit baju yang akan ia jual ke kota. Seluruh warga desa sangat senang dengan usaha Kaori. 

Kaori juga mendirikan sekolah dan koperasi desa untuk membeli hasil tani di desanya. Sedikit demi sedikit kesejahteraan desanya mulai membaik, dan ia mampu membuktikan tidak ada yang mustahil. 

   Kaori sangat senang dengan keadaan desanya yang sekarang, namun ia termenung membayangkan ayah dan ibunya tidak berada disampingnya saat ini. Kaori dan Akari berziarah ke makam ayah dan ibu Kaori, dan berdoa agar orang tuanya tenang disana. 

Editor : Ni Komang Oktarina, S.Pd

Penulis : I Nengah Arya Sandi Kusuma

Balas Pesan...

*